Pendahuluan
Sangkalan
Dengan adanya tulisan ini, saya mendeklarasikan bahwa laman cerita fiksi ini tak ada sangkut pautnya dengan Bright Vachirawit Chivaaree sebagai klaim wajah yang digunakan, dan GMMTV sebagai label yang menaungi talentanya. Halaman carrd dan twitter ini dibuat hanya untuk kepentingan bermain peran.
Cerita di halaman ini hanya fiktif karangan penulis semata. Apabila ada kesamaan nama pemeran, tempat kejadian, ataupun alur cerita, itu hanyalah sekadar kebetulan semata. Tidak ada unsur yang disengaja.
Dari Ignandhi
Beberapa media yang digunakan dalam laman ini adalah bukan kepunyaan penulis, melainkan didapat dari beberapa sumber pencarian di internet.
Segala penjiplakan dan plagiarisme yang dilakukan pada laman ini akan diberikan tindakan tegas oleh penulis.
Dilarang godmod, dan metagaming karakter Marcellino tanpa seizin penulis.
Tawaran menulis, relasi, serta pekerjaan sangat boleh didiskusikan secara langsung melalui direct message.
Akun ini bersifat Not Safe For Work; mengandung adegan tak layak untuk dibawah umur, serta kata-kata kasar yang sering digunakan dalam menulis. Harap lebih bijak.
Data Diri
| Nama Lengkap | Marcellino Rudi Nugroho |
|---|---|
| Nama Lahir | Marcellino Liu |
| Nama Panggilan | Marcellino, Lino, Marcell |
| Tempat, Tanggal lahir | Jakarta, 27 Desember 1997 |
| Jenis Kelamin | Laki-laki |
| Berat, Tinggi badan | 64 kg, 183 cm |
| Golongan Darah | A, rhesus negatif |
| Etnis | Cina - Betawi |
| Status Perkawinan | Belum kawin |
| Kewarganegaraan | Indonesia |
| Pekerjaan | Fotografer lepas |
Latar Belakang Pendidikan
| Tahun | Pendidikan | Keterangan |
|---|---|---|
| 2003-2009 | SD Negeri 03 Menteng | Lulus |
| 2009-2012 | SMP Negeri 280 Jakarta | Lulus |
| 2012-2015 | SMA Negeri 7 Jakarta | Lulus dari Program MIPA |
| 2015-2019 | Universitas Indonesia | Program Studi Teknik Metalurgi, Fakultas Teknik UI |
The Wide Sea
Daerah Ibukota Jakarta, begitulah orang-orang memberikan sapa pada salah satu kota teramai di Indonesia. Jakarta dengan segudang cerita dan legendanya. Jakarta, yang lekat dengan monas dan sajian kerak telur hangat di beberapa angkringan. Juga Jakarta yang sedekat nadi dengan kemacetan di beberapa sudut tempatnya. Bersengkarut sekali 'kan kota kelahiranku?
Memang, begitulah adanya kota tempat kelahiranku. Jakarta masih lekat dengan budaya Betawi, juga makanan khas daerahnya. Tapi sejujurnya, ia hanyalah sebuah buku yang menyimpan seluruh kisah kehidupanku dengan beberapa orang yang menjadi tokoh pendukung didalamnya. Terdengar agak kasar, tapi rasanya aku harus beritahukan kalian tentang itu sejak awal.
Ini bukanlah tentang bagaimana Jakarta yang lekat hubungannya pada Monas, Patung Dirgantara, apalagi dengan sistem pemerintahannya kacau seperti tumpukan cucian yang sama sekali belum disetrika. Jika kalian sempat menerka jika aku akan menuliskan beberapa paragraf kota ramai ini, maka kalian salah besar. Ya, salah. Sangat salah.
⠀
⠀
Ini tentang aku, kau,
dia, dan mereka.
⠀
⠀
Semuanya bermula sewaktu pertama kalinya aku memijakkan kaki di lingkungan dimana aku memutuskan untuk mulai mengenyam tahun pertama di bangku kuliah. Aku masih ingat hari dimana gelar griya salah satu kampus kenamaan ibukota itu menyelenggarakan hari besar; dimana bedah jurusan, tempat berfoto, juga musik langsung yang diadakan pada hari yang sama.
"Cel, kamu mau kemana sehabis ini?" tanya salah seorang dari tiga kawan yang bersamaku pada hari yang sama.
Aku hanya mengangkat kedua bahuku; pertanda belum miliki tujuan setelah mendengarkan penjelasan yang tiga mahasiswa berikan tentang jurusan teknik sipil. Aku menggelengkan kepala.
"Entahlah, mau kemana. Rasanya masih agak bingung. Kalian sendiri?" aku balik bertanya pada mereka bertiga.
Salah satu temanku memasukkan bolpoinnya ke dalam saku baju seragam, kemudian menggeleng. "Sama, nih. Belum terpikir lagi mau mampir ke booth yang mana. Kayaknya, ramai banget kalau dilihat-lihat. Ya 'nggak, sih?" balasnya panjang-lebar.
Aku sama setuju dengannya.
Beberapa menit digunakan untuk memikirkan destinasi selanjutnya. Aku melirik pada jam yang kukenakan di pergelangan sebelah tangan sebelah kanan. Tengah hari hampir selesai, waktu menunjukkan pukul setengah dua siang. Matahari juga sudah mulai sedikit meredup dan angin berhembus sesekali sewaktu kami berdiri dekat pohon besar yang letaknya tidak terlalu jauh dari kerumunan.
"Habis ini lebih baik ke bagian Sastra aja kali, ya? Kita sudah berapa kali keliling dan dengar bagian teknik juga lagian," ucap temanku yang berdiri--bersandar pada batang pohon yang tinggi.
Ada betulnya juga, kami berrtiga lantas langsung mengangguk dengan cepat. Aku dan mereka bertiga melangkah melewati tenda demi tenda jurusan fakultas teknik untuk sampai ke tenda bagian sastra dan kebahasaan. Dwinetraku menatap beberapa siswa SMA, juga mahasiswa di dalam salah satu tenda tengah bercengkerama sembari sesekali menjelaskan bagaimana belajar--rumit dan mudahnya belajar di prodi yang mereka pilih.
Tak berselang lama daripada waktu kami mulai berjalan, panggung tempat musik berlangsung pun sudah dipenuhi beberapa penonton. Di atas panggung pun terlihat satu-dua orang panitia yang tengah merapikan alat-alat musik dan membantu penampil melakukan check sound sebelum grupnya memberikan hiburan pada khalayak ramai yang datang hari ini.
Salah satu dari kami berempat kemudian menyarankan 'tuk mendekat ke pada sumber suara, dan kami sepakat untuk mulai menunggu sesi hiburan dimulai. Ketimbang harus mendengarkan beberapa orang menjelaskan keluh dan kesahnya. Aku dan tiga lainnya mulai mempercepat langkah agar sampai di depan panggung lebih cepat--tak ingin berada di barisan yang paling belakang, lebih tepatnya.
Sang pembawa acara pun mulai menyambut orang banyak yang hadir pada momen saat itu. Aku ingat sekali sambutan demi sambutan yang diucapkan oleh seorang perempuan bersurai hitam legam nan panjangnya sedikit melewati kedua bahunya; ia menanyakan kabar pada peserta acara yang sudah sempatkan diri datang di hari itu. Aku juga masih ingat bagaimana lantangnya kami berempat membalas sapaan si pembawa acara itu.
Kalau diingat-ingat kembali, momen yang satu itu memang memalukan. Tapi siapa pula yang akan sadar akan tingkah kami berempat di salah satu titik tempat festival itu? Jawabannya, betul sekali--memang tidak ada satu pun, sebab mereka juga melakukan hal yang sama dengan kami; berteriak, menyanyi bersama, melambaikan kedua tangan di udara tatkala si pengisi acara mulai menyanyikan bait demi bait karyanya.
Semua orang mulai berseru, bahkan bernyanyi bersama tatkala irama dari alat musik mulai dimainkan bersama-sama. Tak jarang pun pandanganku menangkap beberapa dari pengunjung yang melompat-lompat kecil sesuai dengan tempo musik yang mengalun, ditambah suara sang vokalis pun menjadi pelengkap cerita pada hari itu.
Sementara aku pada waktu itu, hanya berdiri dan berdiam diri. Telinga tak berhenti mendengarkan Rasa Ini milik grup band Vierra. Pun pandanganku juga tak ada henti-henti menatap ke arah depan--bukan pada panggung yang berisikan alat musik dan masing-masing pemainnya, tapi seseorang tepat di hadapanku memang agaknya menarik. Ia menari, sesekali bersenandung, juga tak jarang pun perempuan itu ikut melompat-lompat kecil seiringan dengan irama musik.
Seperti benar-benar paham bagaimana caranya menikmati musik. Sejujurnya, aku agak terpukau dengan caranya yang lepas untuk menikmati musik; seakan tak ada satupun yang bisa memisahkannya dengan musik berirama semangat itu.
Sejak saat itu, aku tak ingin melalui festival dan konser musik tanpa dirinya walau sekalipun tak pernah bersua-sapa dengannya.
Ciri-ciri
Memiliki tinggi badan 183 cm dengan berat badan 64 kgMemiliki kulit putih dan bersih, memiliki bekas luka gores di dekat alis mata bagian sebelah kiriMemiliki jari-jari tangan yang panjang, dan kurusKerap kali gunakan kacamata sebagai pendukung penampilan, juga melengkapi penglihatannya yang kurang bagusMemiliki warna mata yang merah kecokelatan yang pekatMemiliki tato di bagian sebelah kiri atas punggung, tak jauh dengan bahuTak gemar dengan sayuran





